Setelah vakum 3 tahun, akhirnya saya memutuskan kembali menulis, insya'Allah di 3 blog saya di Blogger:
1/ Simplicity Zone
2/ Just Note It &
3/ Fiksi Freaks
Di awal tahun 2016 ini, banyak ide ide bermain di kepala...
Just wait & keep reading!
/Konsep foto: Isaac Ahmed
/Kamera: SonyEricsson J105i
/Teks: Phonto iOS apps
I'm Back!
| 0 komentar |
Nyai Imah dan Preman Sardi
(Cerpen, by: Isaac Ahmed)
Hari masih pagi!
Dan Nyai Imah tampak bersemangat menurunkan keranjang-keranjang dagangannya dari becak langganannya.
Nyai Imah adalah seorang penjual ikan laut segar.
Kondisi geografis kota ini telah membuat sejumlah kecil penduduknya mencari nafkah sebagai pedagang ikan.
Jangan ditanya jika anak cucu si nenek ini tidak mengizinkan wanita berusia lanjut ini untuk terus mencari nafkah di sisa umurnya.
Toh Nyai Imah berpendapat, badan masih sehat juga sebagai rutinitas ketimbang sehari-hari makan dan tidur nan membosankan.
Buktinya tiga keranjang ikan pun masih sanggup dinaik-turunkan setiap hari!
Nyai Imah berangkat dari rumah pagi-pagi sekali, sekitar pukul 05.20 WIB, atau selepas beliau shalat Subuh.
Meski bersahaja, nenek ini tetap tekun beribadah.
Dan prinsipnya untuk memilih mencari penghasilan sendiri yang halal ketimbang meminta belas kasihan orang lain, patut diacungi jempol.
Dari rumah, si nenek menyewa tukang becak langganan untuk mengantarnya ke pasar ikan yang letaknya tidak jauh dari pantai.
Tiba di lokasi, biasanya sudah terasa rutinitas khas pasar pagi, suasana ramai sekali, semua prinsip memborong ikan semurah mungkin lalu menjualnya dengan keuntungan yang layak, dan itu sudah menjadi bagian tak terpisahkan di pasar ikan ini.
★★★
Sardi Sadikin!
Mendengar namanya disebut saja sudah membuat sebagian orang berdiri bulu kuduknya.
Pria yang dimaksud sosoknya berperawakan tinggi besar, dengan sebaris tatto bermotifkan sauh di lengan kanannya, tanda resmi kala dia menginap di bui dua tahun lamanya.
Apakah pria ini seorang preman?
Rasanya tidak ada kata yang pantas buat menggambarkan sesosok pria seram ini.
Nafkah tetap tidak ada. Keahlian apalagi?
Kerjanya hanya memalak para pedagang ikan di sepanjang pantai ini.
Si preman Sardi suka memalak Kang Irwin, pedagang ikan asin, untuk dimintai uang sepuluh ribu rupiah setiap harinya.
Lalu ada Ibu Rosidah, si penjual udang segar.
Ibu ini tidak pernah lupa menyelipkan sedikit uangnya demi si preman sangar, dia begitu takutnya jika si preman Sardi tiba-tiba menggebrak lapak kecilnya itu.
Begitu pun Pak Haji Syukron, penjual aneka jenis kerang laut itu, tampak sabar menghadapi si preman.
Kadang saat dagangan sepi pun, si preman Sardi harus pasrah jika jatah palak ditukar ikan atau udang dagangan mereka.
Lantas bagaimana dengan Nyai Imah?
Konon si nenek pernah menyelamatkan nyawa ibu si preman Sardi saat sakit parah.
Si Sardi kecil tidak tahu apa-apa jika ibunya sangatlah malang, mengurusnya tanpa seorang ayah yang menghilang entah ke mana.
Kepada si Sardi, ibunya pernah berpesan untuk selalu menghormati Nyai Imah!
★★★
Namun janji tinggal janji!
Harapan itu berbanding terbalik dengan kejadian di hari ini.
Nyai Imah sebelumnya sudah merasakan aroma yang tidak beres sejak tadi.
Apalagi diketahuinya lapak Pak Haji Syukron, juga Ibu Rosidah tutup.
Mereka tidak jualan, tak ada hasil tangkapan udang dan kerang-kerangan hari ini.
Dan itu artinya...
★★★
"Braak!"
Si preman sangar ini menggebrak lapak si nenek.
"Bagi aku uang sepuluh ribu! Cepaat!"
Nyai Imah tampak gemetar, mukanya sedikit pucat.
"A-a-ku belum a-da yang be-be-lii..."
Si nenek menjawab sekenanya.
"Bohong!"
Si preman Sardi menepiskan beberapa ikan hingga terjatuh.
"Mana buktinya?"
Sambil melotot si preman itu merampas dompet si nenek, begitu tahu isinya kosong, dia membantingnya dengan keras.
"Sial...! Kalau begitu, bungkuskan aku dua kilo ikan saja!"
Nyai Imah menuruti apa kata lelaki kasar ini.
Dengan tatapan sedih, si nenek lalu memandangi pria kejam ini berlalu dari lapaknya.
★★★
Sesampainya di rumah, si Preman Sardi tampak tidak sabar untuk menyantap ikan-ikan rampasan dari Nyai Imah tadi.
Segera dia membersihkan ikan demi ikan hingga siap dimasak.
Sepeninggal ibunya yang memilih untuk ikut saudaranya di kota lain, si preman Sardi harus mengurus dan menyiapkan sendiri kebutuhan hidupnya.
Dan ikan-ikan tadi kemudian digoreng hingga garing oleh si preman sangar ini.
Nasi panas pun telah matang, ikan-ikan tadi siap disantap.
Bau harumnya yang menyengat, menggugah selera makan si preman ini.
Apa yang terjadi selanjutnya begitu mengejutkan!
Si preman Sardi menyuapkan nasi berikut satu cubitan kecil ikan goreng tadi.
Dia melahapnya seperti orang kesurupan.
Dan saat dia hendak membersihkan salah satu duri ikan itu, tiba-tiba satu duri besar dari punggung ikan itu menusuk jari telunjuknya.
"Arrrgh..."
Si Sardi berteriak kesakitan.
Duri ikan itu melukai telunjuknya. Tampak darah bercucuran saat si preman mencabut duri itu.
Rasa nyeri dan sakit bercampur jadi satu.
Si preman Sardi menyudahi makan siangnya, ikan-ikan goreng berikut nasinya terlantar begitu saja!
★★★
Dan sakitnya si Sardi berlangsung hingga seminggu lamanya.
Dia terkena demam, jarinya bengkak lantaran duri ikan itu!
Si sangar ini kini terbaring di kamarnya.
Dan nyeri itu serasa menjalar di sekujur tubuhnya.
Seluruh pedagang di pasar ikan heboh.
Seminggu tidak ada sosok sangar yang biasanya bikin onar.
Beberapa pedagang ikan tampak berkumpul menggunjingkan sosok preman sangar itu.
Kecuali si Nyai Imah, dia tetap tekun merapikan dagangannya.
Sesekali matanya yang sedikit berair menatap orang-orang yang riuh-rendah membincangkan si preman Sardi.
Beberapa saat kemudian riuh-rendah itu menjadi senyap.
Seiring langkah kaki diseret-seret yang telah dikenal betul oleh si nenek ini, mendekat...
"Nyai...Nya-nyai Imah?"
Si nenek begitu tertegun, di hadapannya tampak si preman Sardi dengan mimik menahan sakit yang amat sangat.
Tangan kanan si Sardi memegang tongkat kayu, dia tampak tidak sanggup melangkah tanpa penopang kayu ini.
Si Sardi lalu membungkuk, bersimpuh di ujung kaki Nyai Imah.
"Nyai...maafkanlah aku?"
Si nenek bingung apa yang mau dimaafkan.
"Nyai...minggu lalu aku amat sangat berdosa sekali. Aku mengabaikan nasehat ibuku. Nenek yang seharusnya aku jaga, malah aku kasari, juga kusakiti!"
Bulir-bulir air mata membasahi muka si Sardi.
Kedua tangan si Sardi menggenggam erat tangan si nenek.
Nyai Imah ikut berurai air mata.
Di dalam fikirannya perbuatan si preman tempo hari memang fatal, merampas milik seseorang yang bukan haknya.
Namun Nyai Imah sejak saat itu telah mengikhlaskan, karena dia menyadari tindakan seseorang yang kehilangan akal sehat, akan membuat seseorang menghalalkan cara apapun, termasuk meminta paksa ikan-ikan dagangannya.
Si nenek juga sadar, sakitnya si preman Sardi mungkin salah satu cara Tuhan menegur hambaNya.
"I-ya...nak. Aku maafkan. Semoga sakitmu juga cepat disembuhkan?"
Nyai Imah berucap dengan lembut.
Perlahan-lahan setelah permohonan maaf untuk si nenek diterima, rasa sakit itu berangsur-angsur hilang.
Si preman Sardi kini berubah menjadi sosok yang santun.
Dia lalu membantu Nyai Imah menjualkan ikan-ikan dagangannya!
★★★
Ditulis oleh: Isaac Ahmed, 8 Januari 2012
(Cerpen ini hanyalah ilustrasi semata, tak ada niat buat menyinggung pihak-pihak tertentu. Saya terinspirasi untuk menulis cerita ini setelah mendengar ceramah dari seorang ustadz)
(Inzet foto: Looking Through Your Eyes, by: Isaac Ahmed)
| 0 komentar |
Affan Dan Celengan Masjid
11.40 WIB, dan Affan bergegas membereskan kertas kerja, juga peralatan menggambarnya.
Sesaat kemudian dia izin pamit kepada atasannya guna menunaikan shalat Jum'at siang ini.
★★★
MASJID BAITUL MI'RAJ, salah satu masjid yang didirikan atas nama yayasan sebuah BUMN ini letaknya tak jauh dari tempat kerja si Affan.
Hanya berjalan kaki beberapa meter saja, dan kita akan menemukan sebuah masjid di areal perkantoran, yang arsitekturnya tampak memikat mata.
Sebagian orang menyukai konsep ventilasinya yang natural, alias where the wind blows... membuat ibadah semakin nyaman.
Sesaat kemudian si Affan selesai menunaikan shalat sunnat dua rakaatnya, lalu sejenak berzikir sembari menunggu masuknya waktu shalat, juga khutbah Jum'at sesaat lagi.
★★★
Kala khatib mulai dengan khutbahnya, seketika itu pula sebentuk kotak berbahan kayu yang didesain layaknya celengan itu, diedarkan mulai dari shaf depan!
Karena si Affan memilih di barisan tengah, tidak perlu menunggu lama, kotak itu diedarkan mulai dari tepi shaf tengah.
Dan setelah diedarkan dari tangan ke tangan para jamaah, tiba juga kotak celengan itu di hadapan si Affan.
Affan pun meraba saku kemejanya, dan bergegas memasukkan sebentuk amplop putih ke lubang kotak kayu.
Secepat itu pula dia meneruskan kotak amal itu kepada jamaah lain yang berada di sisi kirinya.
Dan...
"Astaghfirullahaladziim!"
Affan mendadak lemas, dia baru tersadar kalau uang dalam amplop itu adalah uang titipan dari Pak Haji Ali, uang yang beliau kumpulkan buat mendanai beberapa anak yatim yang minggu ini rencananya akan berlibur di sebuah tempat rekreasi.
Beberapa orang di sampingnya saat itu heran dan menampakkan rasa ingin tahu ada apa gerangan?
Affan hanya membalas dengan gelengan kepala sembari tersenyum.
★★★
Lima ratus ribu rupiah!
Affan membatin, kemana dia akan mencari uang sebesar itu dalam satu minggu ini?
Padahal seminggu lalu dia baru saja gajian, dan sisanya telah habis buat membayar sewa kost, juga beberapa kebutuhan lain yang mutlak dibeli layaknya kebutuhan seorang anak kost.
Affan, anak muda berusia dua puluh tahun ini adalah tipikal anak yang mandiri.
Setamatnya dari SMA dia memutuskan untuk bekerja sembari kuliah, dan tinggal jauh dari orang tuanya yang seorang guru.
Di kota ini dia bekerja di sebuah advertising sebagai seorang creative design, bahkan seringkali pula dia mencari uang tambahan dengan mencari job tambahan kepada sesama teman seniman yang berprofesi sama.
Affan sedikit pesimis, mengingat saat ini menjelang tutup tahun, dia ingat beberapa biro iklan sepi order. Dan beberapa teman malah bersiap akan libur panjang, pulang kampung atau bahkan melangsungkan pernikahan.
Namun Affan teringat akan raut muka bahagia anak-anak yatim yang membayangkan betapa menyenangkannya kala berada di area rekreasi minggu ini.
Dua minggu lalu ia ingat betul kala mengunjungi mereka, ada salah satu anak menarik-narik bajunya:
"Bener ya kak, minggu depan kita ke Fantasy Island?"
Duh, Affan semakin bersalah. Juga merasa bersalah kepada Pak Haji Ali, karena amplop itu salah sasaran.
★★★
Jadi, dalam satu minggu ini Affan bergulat mengumpulkan segenap tenaga, juga usaha buat mengembalikan uang dari Pak Haji Ali itu.
Dari beberapa temannya dia mendapat order finishing neon box, juga beberapa banner instansi.
Affan baru mengumpulkan uang tiga ratus ribu rupiah.
Tinggal dua ratus ribu lagi!
Affan teringat salah satu ibu yang pernah menawarinya untuk mendesain kamar anak perempuannya.
Mudah-mudahan beliau ada di rumah, begitu Affan berharap.
★★★
Dan, niat hati yang baik memang berbuah manis...
Desain kamar berikut pernak-pernik telah rampung.
Ibu Hanni Wijaya nampak puas dengan hasil kerja Si Affan, dengan seulas senyum dia menyerahkan uang sebesar: tiga ratus ribu rupiah...
Alhamdulilah!
Affan pun bergegas ingin menemui Pak Haji Ali guna menyerahkan uang titipan darinya, dan rencananya akan mereka serahkan ke panti asuhan sore ini!
Belum jauh dia melangkah dari rumah Ibu Hanni tadi, tampak seorang ibu muda yang kebingungan, juga raut wajah yang menampakkan kesedihan, dan mereka perpapasan.
Affan teringat wajah ibunya.
Wajah ibu itu sama persis kala dulu dirinya telat membayar iuran sekolah, dan teguran dari wali kelas yang mengingatkan uang iuran itu.
Affan menghentikan langkahnya.
Dari ibu itu dia mendapat informasi, anaknya yang nomor dua saat ini terbaring di Rumah Sakit.
Beliau berusaha mencari uang guna menebus resep dokter berupa beberapa obat juga infus yang harus dibeli di luar, karena stok di Rumah Sakit sedang habis.
Affan membayangkan betapa pentingnya infus itu.
Dia teringat pengalamannya saat membesuk adik temannya, salah satu pasien di sebelah kamar adik temannya tadi, meninggal dunia karena terlambatnya penanganan.
Affan pun dengan refleksnya merelakan amplop putih milik Pak Haji Ali itu.
Bahkan menambahi lagi kelebihan uang yang ia peroleh dari Ibu Hanni tadi.
Keselamatan anak ibu lebih penting ujarnya, sesaat setelah ibu itu hilang dari pandangan matanya.
★★★
Dan, Affan akhirnya lemas kembali...
Tapi rasa ini tidaklah menyiksanya.
Satu-satunya harapan terakhir adalah, menemui Pak Hadi, pimpinannya di advertising tempatnya bekerja.
Affan ingin meminjam uang!
Dan hal ini yang enggan dilakukannya, apalagi kepada Pak Hadi, pimpinan yang amat dihormatinya.
Affan bergegas menyetop angkot menuju tempatnya bekerja.
Tadi dia hanya idzin guna menyerahkan uang titipan Pak Haji Ali, lantaran takut terpakai lagi.
Dan di dalam angkot telepon genggamnya berbunyi.
"Halo, benar ini Mas Affan Firmansyah?"
Affan mengiyakan.
"Selamat Mas, desain anda memenangkan juara pertama pada LOMBA LOGO INSTANSI kami. Dan Mas berhak atas hadiah sebesar sepuluh juta rupiah!"
Terdiam.
Sunyi.
Meski di dalam angkot itu ada beberapa penumpangnya.
Dan Affan hanya menggumam: alhamdulillah!
★★★
(Terinspirasi kisah seorang tukang sol sepatu, yang merelakan uang biaya hajinya untuk seorang ibu panti)
(Inzet foto, UANG, karya: Isaac Ahmed)
| 0 komentar |
EMOSI

Beberapa waktu yang lalu, salah satu rekan kerja saya, menangis tersedu-sedu, tak lain karena barusan dibentak-bentak, dihardik, juga diancam hendak digampar oleh seorang ibu-ibu…
Dia, yang seumur hidupnya sangatlah malang, karuan saja bertambah pilu, mengingat meski berasal dari keluarga broken-home, perlakuan yang dia terima sangatlah menyakitkan.
Terluka, juga nyeri yang amat sangat?
Tentu saja…
Anda pun tak ingin jika perkataan atau pun perbuatan anda melukai hati orang lain?
Baiknya baca saja kisah teladan berikut ini…mudah-mudahan mengilhami?
PAKU
Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah.
Ayahnya berusaha keras untuk membuang sifat buruk anaknya.Suatu hari ia memanggil anaknya dan memberinya sekantong paku.
Paku?
Ya, paku!
Sang anak heran.
Tapi, bibir ayahnya justru membentuk senyum bijak.
Dengan suaranya yang lembut, ia berkata kepada anaknya agar memakukan sebuah paku di pagar belakang rumah setiap kali marah.
Ajaib!
Di hari pertama, sang anak menancapkan 48 paku!
Begitu juga di hari kedua, ketiga, dan beberapa hari selanjutnya.
Tapi, tak berlangsung lama.
Setelah itu jumlah paku yang tertancap berkurang secara bertahap.
Ia menemukan fakta bahwa lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan begitu banyak paku ke pagar.
Akhirnya, kesadaran itu membuahkan hasil.
Si anak tak lagi pemarah.
Ia bergegas memberitahukan hal itu kepada ayahnya.
Sang ayah tersenyum.
Kemudian meminta si anak agar mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.
Hari berlalu, dan si anak berhasil mencabut semua paku dari pagar.
Ia bergegas melaporkan kabar gembira itu kepada ayahnya.
“Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku.
Tapi,lihatlah lubang-lubang di pagar ini.
Pagar ini tidak akan bisa seperti sebelumnya”, kata si ayah bijak.
“Ketika kamu melontarkan sesuatu dalam kemarahan, kata-katamu membekas seperti lubang ini di hati orang lain.
Tidak peduli berapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada”.
Ucap sang ayah lembut namun sarat makna.
Sang anak membalas tatapan lembut ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
Pelajaran yang diberikan ayahnya begitu tajam menghujam relung hatinya.
(Ditulis Ulang Berdasarkan Artikel di Lembar Jum'at - Insan Mulia/Eds.33/4 Maret 2005)
(Inzet foto, PAKU, karya: Isaac Ahmed)
| 0 komentar |
